Rabu, 28 September 2022

 Menyambut Bisyarah Rasulullah untuk Menaklukkan Roma

            Disaat dunia tanpa khilafah tentunya hal ini semakin mustahil untuk diwujudkan, maka untuk itu dibutuhkan perjuangan untuk mengembalikan Islam ke pangkuan kaum muslimin dulu yaitu tegaknya Khilafah ala minhaj nubuwah yang telah dijanjikan. Maka kemenangan selanjutnya adalah menaklukkan Roma. Roma pusat peradaban romawi yang pernah ingin ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih juga namun akhirnya Allah belum berkehendak. 25 Tahun yang lalu sejak kontantinopel berhasil ditaklukkan oleh seorang khalifah sekaligus panglima besar Muhammad Al-Fatih yang termotivasi oleh bisyarah Rasulullah, tepatnya pada Kamis, 26 Rabiul Awal 857 H/ 6 April 1453 M. Menjadi saksi perjuangannya yang luar biasa. Untuk itu harusnya ini juga yang menjadi motivasi bagi para pemuda Islam tentunya untuk bisa mewujudkan bisyarah kedua setelah Kontantinopel yaitu Roma. Namun sebelumnya perlu kita ketahui bahwa perjuangan untuk menyambut bisyarah ini bukanlah hal yang mudah.

            825 Tahun yang lalu sejak kontantinopel berhasil ditaklukkan oleh seorang khalifah sekaligus panglima besar Muhammad Al-Fatih yang termotivasi oleh bisyarah Rasulullah, tepatnya pada Kamis, 26 Rabiul Awal 857 H/ 6 April 1453 M. Menjadi saksi perjuangannya yang luar biasa. Untuk itu harusnya ini juga yang menjadi motivasi bagi para pemuda Islam tentunya untuk bisa mewujudkan bisyarah kedua setelah Kontantinopel yaitu Roma. Namun sebelumnya perlu kita ketahui bahwa perjuangan untuk menyambut bisyarah ini bukanlah hal yang mudah.Dari hadist inilah kemudian para sahabat menyakini bahwa Konstantinopel pasti akan jatuh ketangan kaum muslimin bagaimanapun caranya. Motivasi dari Rasulullah ini juga yang membuat para sahabat berlomba-lomba untuk memenuhinya. Dari masa Umawiyyah di pimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan (668-669 M) diteruskan oleh anaknya Yazid bin Muawiyah, bahkan salah seorang sahabat Rasul pun ikut gugur yaitu abu ayyub Al-Ashari. Pada masa Abbasiyyah di pimpin oleh Khalifah Al-Mahdi (163 H/779 M) diteruskan oleh puteranya Harun Ar-Rasyid (166 H/782 M) dengan 90.000 personil. Ketika kota Baghdad Runtuh yaitu pada masa Abbasiyyah, Asia Timur yaitu kerajaan kecil Bani Saljuk dipimpin oleh Alip Arselan sampai kemudian generasi Daulah Turki Utsmaniyyah yang dipimpin oleh Sultan Bayazid I (795-803 H/1393-1401 M), dilanjutkan oleh Sultan Murad II (1422 M). dan setelah semua kegagalan itu akhirnya Allah memberikan kemenangan melalui tangan Sultan Muhammad Al-Fatih dengan 250.000 personil. Sejarah mencatat bagaimana gigihnya perjuangan seorang khalifah ke -7 Utsmani bernama Muhammad Al-Fatih untuk menaklukkan Konstantinopel. Ia adalah pemuda yang kelahirannya di nantikan sang ayah dengan melantunkan surat Al-Fath (kemenangan). Dan dibawah didikan sang guru Syaikh Aq-Syamsyuddin yang merupakan keturunan langsung dari Abu Bakar Ash-Shidiq, Mehmed biasa mereka memanggilnya seperti itu mendapatkan banyak sekali pelajaran. Mampu menghafal Al-Qur’an sejak berumur 8 tahun, menguasai 6 bahasa, hadist, fikih, sejarah, matematika dan ilmu perang.

           Dan tak lupa sang guru terus mengulang-ulang hadist yang sama setiap harinya takkala rasa lelah mendera ataupun rasa jumud datang menerpa. Maka hadist inilah yang menjadi motivasi sang guru agar ia mampu untuk segera bangkit lagi dari semua rasa itu. Dan bahwa ia akan menjadi khalifah yang membuka jalan menuju Konstantinopel.Dalam sebuah kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim).Tertuang dalam tinta sejarah peradaban Islam yang sungguh luar biasa. Bagaimana dengan tegasnya ia mampu memimpin pasukan yang jumlahnya 250.000 personil dengan ketakwaan diatas rata-rata. Bahwa memilih pasukan pun ada syaratnya bukan hanya Islam dan Baligh, namun yang kedekatannya pada Allah tak diragukan lagi. Amalan wajibnya sempurna dan berpadu dengan amalan sunnahnya, bahkan sehari sebelum menyerang Konstantinopel sang Sultan memerintahkan para prajuritnya untuk berpuasa, agar kemudian Allah senantiasa menolong mereka dan menjaga agar tetap istiqomah dalam perjuangan mulia ini.Konstantinopel adalah sebuah benteng kokoh dengan tiga lapis tembok yang tidak mudah dijangkau. Sementara daratannya dijaga dengan benteng yang kokoh terbentang dari alut Marmara sampai ke Tanduk Emas. Dari segi kekuatan militer, kota ini terhitung sebagai kota paling aman dan terlindungi, karena didalamnya ada pagar-pagar yang tinggi menjulang, menara pengintai yang kokoh serta ditambah serdadu Bizantium disetiap penjuru kota. Maka wajar jika wilayah itu sangat sulit untuk bisa ditaklukkan.

            Setelah hampir dua bulan melakukan pengepungan dan serangan, yaitu dari 26 Rabi’ul Awal hingga 19 Jumadil Ula 857 H (6 April – 28 Mei 1453 M), dengan mengerahkan berbagai strategi termasuk memindahkan kapal-kapal melalui bukit Galata, membuat terowongan dan membuat benteng bergerak dari kayu, akhirnya pada 20 jumadil Ula 857 M (29 Mei 1453 M) Konstantinopel berhasil dibebaskan oleh pasukan Islam. (lihat : Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah : ‘Awamilu An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hlm. 87-107) Komentar syaikh Al-Albani ketika megomentari hadist diatas, ia menulis :“penaklukkan pertama (Konstantinopel) telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Seperti yang telah diketahui, penaklukkan itu terealisasi setelah lebih dari 800 tahun sejak Bisyarah itu disampaikan oleh Rasulullah saw. Dan pembebasan kedua (yaitu penaklukkan kota Roma) dengan seizin allah juga pasti akan teralisasi. Sungguh, beritanya akan kita ketahui di kemudian hari. Tidak diragukan juga bahwa realisasi pembebasan kedua itu menuntut kembalinya Khilafah Rasyidah yang kedua di tengah-tengah umat muslim” (Silsilah Al-Ahadist Ash-Shahihah, jld, 1, hlm. 33, no.hadist. 1329)

            Inilah rahasia kaum muslim, yang mungkin bagi sebagian orang dianggap hanyalah utopis atau hayalan. Bagi kami ini bukanlah hanyalan namun sebuah harapan dimana sang motivator itu Rasullullah sendiri yang menyampaikan Bisyarah ini dengan lisan mulianya. Sungguh Rasullullah tak pernah berbohong, dan Allah akan selalu menepati janjinya bahwa kaum muslimin pasti akan menang. Selanjutnya Kota Roma masih menanti kita, mari kita taklukkan wahai pemuda. 570 Tahun hingga saat ini Roma masih berdiri kokoh, lalu siapa yang akan menjadi pemimpin dan pasukan terbaik nantinya? Masih Allah beri kesempatan bagi para pemuda untuk berlomba dan melayakkan diri menjadi salah satu dari bisyarah selanjutnya. Ayo pemuda bangkit, bergerak, bersama kita taklukkan Roma.

Semoga kita satu diantara sang penakluk itu!

Minggu, 04 Oktober 2020

Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel yang selama 1.500 tahun dikuasai Kaisar Romawi Timur. Ia pun digelari Al-Fatih, sang penakluk.

        Sultan Mehmed II atau kemudian populer dengan nama Muhammad Al-Fatih merupakan salah satu panglima perang Islam terkemuka. Kemasyurannya disandingkan dengan kemasyuran panglima Islam lain, Shalahuddin al-Ayyubi –yang di dunia barat dikenal dengan nama Sultan Saladin. Mehmed mendapat julukan Muhammad Al-Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 1453. Mehmed merupakan penguasa Utsmani ke tujuh (1444-1446 M).Dilahirkan pada 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Utsmaniyah, Mehmed adalah anak Sultan Murad II. Saat masih belia, 11 tahun, ia dikirim untuk memerintah Amasya. Sebagai anak Sultan, ia banyak mendapat ilmu. Ia menguasai sedikitnya enam bahasa. Salah satu guru Mehmed adalah Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Hamzah. Ulama terkemuka inilah yang mempengaruhi Mehmed pentingnya menaklukkan Konstantinopel yang dikuasai Kekaisaran Romawi Timur dan menjadi salah satu pusat gereja Ortodok.Pada 1444 Sutan Murad menyerahkan kekuasaannya pada Mehmed yang saat itu masih 12 tahun. Pada periode pertama kekuasaannya, Utsmani diserang pasukan Hongaria. Mehmed meminta ayahnya kembali naik tahta. Tapi Murad menolak. Mendapat jawaban seperti ini, Mehmed kemudian mengirim surat kepada Murad. “Jika ayah Sultan pimpinlah pasukan melawan musuh, jika saya yang Sultan, saya perintahkan ayah untuk memimpin pasukan melawan musuh.” 

       Murad akhirnya mematuhi perintah Mehmed. Ia memimpin pasukan Ustamania melawan koalisi tentara Hongaria, Polandia dan Wallachia. Pada 1444, pada pertempuran di Varna pasukan Hongaria dan sekutunya berhasi dikalahkan Murad. Murad kemudian naik tahta lagi hingga 1451 -sampai wafat- dan kemudian digantikan Mehmed. Mehmed dilantik menjad Sultan pada usia 19 tahun. Setelah naik tahta, Mehmed mulai memusatkan perhatiannya merebut Konstantinopel. Langkah pertama yang dilakukannya adalah memperkuat armadanya lautnya, terutama, di Selat Bosporus. Ia juga membangun benteng Rumeli Hisari di tepi Eropa Bosporus. Adanya benteng ini praktis membuat angkatan laut Utsmaniyah menguasai selat ini.Pada 1453 pengepungan terhadap Konstantinopel dimulai. Sekitar 200 ribu pasukan Islam mengepung kota yang sudah berumur 1.500 tahun itu. Tak kurang 320 kapal perang dikerahkan. Saat itu Kaisar Romawi. Timur menjaga pantainya dengan membuat “ranjau” rantau besi untuk menghadang kapal perang tentara Islam. Mehmed kemudian memerintahkan pasukannya untuk “menaikkan” kapal-kapal lebih kecil ke darat, dan kemudian kapal itu “menyusuri” hutan –jalan darat- sekitar satu mil, sebelum kemudian masuk laut kembali dan menyerbu benteng pertahanan Konstantinopel.

      Pada 1453 itu, pasukan Mehmed, setelah bertempur sekitar 50 hari, berhasil masuk kota Konstantinopel, merebut dan menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur.Kaisar Konstantinus XI meninggal pada hari penaklukan. Penguasa terakhir Konstantinopel tersebut dikabarkan tewas bersama pasukannya yang tersisa. Setelah menalukkan Konstantinopel, Mehmed kemudian memindahkan ibu kota Utsmani dari Erdiner ke Konstantinopel. Penaklukan ini membuktikan kehebatan Mehmed dan kebesaran Mehmed sebagai panglima Islam. Inilah penaklukan yang diimpikan semua panglima Islam karena dalam hadis Ahmad, Nabi Muhammad menyebut,”Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pasukan.”Karena ini pula Sultan Mehmed mendapat gelar Al-Fatih yang artinya “Sang Penakluk.”Walau menguasai Konstantinopel, Mehmed tidak lantas menghancurkan bangunan gereja di sana. Ia membiarkan gereja Ortodok Haga Sophia tetap berdiri, membiarkan simbol-simbol kristen di dalamnya dan hanya menutup simbol-simbol itu dengan simbol Islam. Gereja yang sudah berumur seribu tahun itu menjadi masjid hingga 1932 sebelum kemudian diubah menjadi museum oleh Presiden Turki Mustafa Kemal Ataturk.Selama memerintah, dari 1451-1484, Muhammad Al-Fatih telah membangun sedikitnta 300 masjid di Istanbul. Salah satu masjid yang termasyur adalah Masjid Biru yang letaknya tak jauh dari Haga Sophia dan hanya dipisahkan sebuah taman air mancur yang indah.Sultan Mehmed alias Al-Fatih meninggal saat usia 50 tahun. Ia meninggal karena sakit dalam perjalanannya bersama pasukannya. Meninggal di tengah pasukan yang ia cintai. 


Oleh : Wanda Candra


Sumber : Dari berbagai sumber

  Menyambut Bisyarah Rasulullah untuk Menaklukkan Roma                Disaat dunia tanpa khilafah tentunya hal ini semakin mustahil untuk d...